Daisypath Anniversary Years Ticker
Lilypie Kids birthday TickerLilypie Kids birthday Ticker


Minggu, 23 Agustus 2009

Doa hari-1


Yaa Allah! Jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. Dan jagalah aku dan tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosaku... Wahai Tuhan sekalian alam! Dan ampunilah aku, Wahai Pengampun para pembuat dosa

Sabtu, 22 Agustus 2009

20 bulan


Hari ini dedek Azzah genap 20 bulan. Sudah mulai pintar ngomong. Sudah mulai jelas kata-katanya. Tapi gak tahu kenapa kok dedek jadi ngompol lagi ya.

Jumat, 21 Agustus 2009

Marhaban ya Ramadham

Besok, umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1430 H. Semoga nanti saya bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya karena yang menilai adalah Allah langsung. Semoga ibadah saya diterima oleh Allah SWT. Amin.

Puasa di bulan Ramadhan sejatinya adalah untuk menerapkan kesederhanaan hidup bagi kita. Juga mengajarkan kepada kita untuk berbagi, ikut merasakan bagaimana orang-orang yang secara ekonomi jauh di bawah kita, mereka yang harus berpuasa setiap hari, bahkan belum tentu dalam sehari itu mereka bisa makan. Tapi mengapa -termasuk saya- menyambut bulan Ramadhan itu dengan berbelanja yang lebih daripada bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Belanja bahan makanan, makanan, baju-baju atau pun keperluan puasa dan lebaran. Di mana-mana -pasar-pasar, mall-mal- penuh pengunjung. Dari yang mulanya mungkin hanya melihat-lihat, akhirnya membeli juga. Konsumtif.

Tapi mungkin juga karena harga-harga yang melambung tinggi begitu mau masuk bulan Ramadhan, jadinya banyak orang yang berbelanja -atau menimbun- sebelum puasa, padahal nanti pas bulan puasa juga belanja lagi. He...he...he.... jadi malu. Mungkin saya juga termasuk yang itu.

Ya sudahlah, mari kita bersama-sama memasuki bulan Ramadhan ini dengan hati yang suci, dengan hati yang ikhlas untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dengan niat hanya untuk mengharap ridlo Allah SWT. Mohon maaf lahir dan batin, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1430 H ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali fitrah. Semoga kita bisa dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya. Amin.

Kamis, 20 Agustus 2009

Bolehkah tidak Puasa saat Menyusui?

Dari selasi.net

Bolehkah tidak puasa saat menyusui?



Written by selasi
Monday, 27 October 2008 16:10

-Menurut madzhab Maliki:
wanita hamil & wanita menyusui bila khawatir jatuh sakit dikarenakan berpuasa, baik yg dikhawatirkan itu dirinya sendiri atau anaknya atau kedua2nya, maka boleh saja berbuka puasa dan wajib mengqadha puasanya kelak. Bagi wanita hamil tidak diwajibkan membayar fidyah sdg bagi wanita menyusui wajib membayarnya.


-Menurut madzhab Hanafi:
bila wanita hamil atau wanita menyusui cemas akan timbulnya bahaya akibat berpuasa, maka boleh mereka berbuka, baik kecemasan itu atas dirinya sendiri, atas anak, atau atas kedua2nya. Bila mampu, mereka
wajib mengqadha puasa merekatanpa harus membayar fidyah.

-Menurut madzhab Hambali:
wanita hamil dan wanita menyusui boleh utk tdk berpuasa apabila mereka khawatir akan timbulnya bahaya atas diri mereka dan anak sekaligus, atau atas diri mereka saja. Dan dlm keadaan dmk mereka
hanya berkewajiban melakukan qadha tanpa fidyah. Adapun kalau kekhawatiran itu tertuju kpd diri anak saja, maka selain qadha juga wajib fidyah.

-Menurut Madzhab Syafi'i:
wanita hamil dan wanita menyusui, apabila khawatir akan mengalami bahaya tak tertanggungkan akibat berpuasa, baik itu kekhawatiran atas 1)diri mereka dan anak sekaligus, atau 2)atas diri mereka saja, atau
3)atas anak saja, maka mereka wajib berbuka, tak usah berpuasa. Dalam ketiga keadaan ini mereka mengqadha puasa mereka kelak. Hanya utk keadaan yg ke-3 yaitu bila kekhawatiran hanya tertuju pada anak, maka selain qadha juga wajib membayar fidyah.


Dari semua keterangan di atas, jelaslah bhw berbuka puasa bagi wanita hami dan wanita menyusui itu boleh saja, bila merasa khawatir atas keselamatan dirinya atau anaknya. Adapun harus membayar qadha atau
fidyah, silakan ambil dari salah satu madzhab, Insya Allah semuanya benar.

sumber : http://www.dunia-ibu.org/sharing/index.php?id=42

Bagaimana cara Mengganti Puasanya ?

- Menurut Jumhur Ulama

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar, disebutkan bahwa masalah wanita hamil dan menyusui dikembalikan kepada motivasi atau niatnya. Kalau tidak puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dianggap dirinya seperti orang sakit. Maka menggantinya dengan cara seperti mengganti orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain.

Sebaliknya, kalau mengkhawatirkan bayinya, maka dianggap seperti orang tua yang tidak punya kemampuan, maka cara menggantinya selain dengan puasa, juga dengan cara seperti orang tua, yaitu dengan membayar fidyah. Sehingga membayarnya dua-duanya.

Pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas

Namun menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, wanita yang hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat dengan orang tua yang tidak mampu puasa.

Dan pendapat kedua shahabat ini mungkin tepat bila untuk menjawab kasus para ibu yang setiap tahun hamil atau menyusui, di mana mereka nyaris tidak bisa berpuasa selama beberapa kali ramadhan, lantaran kalau bukan sedang hamil, maka sedang menyusui.


**sumber: Fiqih Wanita, alih bahasa: Anshori Umar**


Sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/7828115313-wanita-hamil-dan-menyusui-membayar-puasa-atau-fidyah.htm

Puasa untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Dari selasi.net

Puasa untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Thursday, 02 April 2009 03:24

RADAR SOLO (30/9)- Banyak orang menantikan datangnya bulan suci Ramadan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Karenanya, setiap orang tidak ingin melewatkan saat-saat untuk menjalankan ibadah puasa tersebut. Termasuk ibu hamil dan menyusui. Bagaimana puasa yang aman bagi ibu hamil dan menyusui?


Menurut Dr Anik Suryaningsih SpOG, Ahli kebidanan dan penyakit kandungan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, ibu hamil dan ibu menyusui sebenarnya sah-sah saja berpuasa. Jika merasa mampu berpuasa, Anik mempersilakan mereka menjalankan ibadah tersebut. Hanya saja, ada beberapa hal harus diperhatikan ketika mereka berpuasa, terutama masalah sanitasi dan nutrisi mereka. "Asupan nutrisi yang masuk kan tidak hanya untuk mereka saja, tetapi juga untuk janin dan balitanya. Jadi mereka harus memperhatikan itu," terang Anik. Karena nutrisi yang mereka konsumsi akan dimanfaatkan juga oleh janin dalam kandungan dan juga balita yang masih diberi ASI secara eksklusif.

Dia menekankan, jumlah nutrisi yang diperlukan selama berpuasa harus sama dengan jumlah nutrisi pada hari biasa. Hal ini dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi empat sehat lima sempurna -- nasi, sayur, lauk-pauk, buah, dan susu -- dalam setiap kali bersantap, yaitu saat sahur dan buka. "Harus ada karbohidrat, protein hewani dan protein nabati, vitamin, dan juga lemak," imbuh dia.

Ditambah suplemen vitamin yang diperuntukkan bagi ibu hamil, dia percaya kebutuhan nutrisi selama berpuasa akan terpenuhi. "Jangan terlalu banyak minum ketika berbuka, karena biasanya akan malas makan. Yang benar adalah makan yang cukup dan minum susu," tambah Anik.

Namun jika muncul gejala seperti lemas, pusing, bahkan berat badan menurun, ia menambahkan bahwa hal tersebut mengindikasikan bahwa jumlah nutrisi mereka tidak tercukupi dengan baik. Jika demikian, ia mengharapkan supaya ibu hamil dan menyusui tersebut menghentikan puasanya. Karena hal itu menggambarkan bahwa sebenarnya mereka tidak mampu untuk berpuasa. Demikian pula untuk ibu hamil yang mengalami mual dan muntah, terutama pada kehamilan awal, Anik menyarankan untuk tidak tidak berpuasa. Karena jika diteruskan, tidak saja jumlah asupan nutrisi yang masuk menjadi berkurang tetapi juga akan berpengaruh terhadap perkembangan janin dalam kandungan. (mg9)



Sup Jagung Ayam

Sup Jagung Ayam

Bahan :
  • 2 buah jagung manis, serut
  • 1 potong dada ayam rebus, potong kecil-kecil
  • 400 ml kaldu ayam
  • 1 butir telur, kocok
  • 1 sdm keju parut
Bumbu halus :
  • 4 siung bawang putih
  • 6 butir lada
  • sedikit pala
Cara Membuat :
  1. Panaskan kaldu ayam sampai mendidih, masukkan bumbu halus, masukkan jagung dan dada ayam, aduk-aduk, tunggu sampai mendidih lagi.
  2. Masukkan telur kocok, aduk-aduk biar berserabut.
  3. Terakhir masukkan keju parut, aduk rata.
  4. Angkat.

Pepes Ikan

Ini bikinnya tadi dinihari, jadi ada beberapa bumbu yang gak dikasih karena gak ada. Terus di freezer ada fillet ikan tuna, ya udah biar cepat bikin aja pepes ikan. Tapi ternyata tetap saja lama nggerus bumbunya. Berhubung gak ada daun pisang atau alumunium foil, ya sudah langsung aja pakai pinggan tahan panas.

Pepes Ikan

Bahan :
  • fillet ikan tuna (tadi pakainya 2 plastik ziplock kecil)
  • 1 buah tomat dipotong kecil-kecil (kayaknya pakai yang hijau lebih mantap, tapi tadi adanya yang merah)
  • 2 buah daun salam
  • daun kemangi (gak pakai karena gak ada)
  • serai (gak pakai karena gak ada)
Bumbu halus :
  • 5 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 6 butir lada
  • 1 ruas jari jahe
  • 2 butir kemiri
Cara Membuat :
  1. Panaskan dandang, masukkan semua bahan dan bumbu halus ke pinggan tahan panas, aduk rata.
  2. Kukus sampai matang.
  3. Angkat.