Jumat, 20 September 2013
Episode travel
Pas pulangnya pas saya nunggu jam keberangkatan yang ke Bandung, ada ibu-ibu yang mengeluh sekarang jauh, mana ga ada taxi. Saya tunjukin saja biasanya ada taxi di situ, terus tadi pagi ada kok taxi-taxi di depan situ, ya mungkin pas waktu itu lagi pada keluar bawa penumpang.
Perjalanan pulang saya tidur lagi dong he³ mumpung bisa tidur, capek banget. Bangun-bangun pas ditelepon si kakak :). Habis itu tidur lagi *gila ya saya sekarang hobi banget tidur *berarti capek banget kemarin itu, eh sekarang juga masih kerasa ding capeknya, badan pegal-pegal semua.
Whatsappan sama papa nanti mau jemput di mana, karena sudah sore ga mungkin saya pulang duluan. Nyampai Bandung juga paling lancar jam 5, sama dengan jam pulang kantor. Papa sih mau jemputnya di pool saja. Ya sudah saya kasih tahu di pool di Dipati Ukur. Oke katanya.
Waktu sudah mau keluar Pasteur saya WA lagi si papa biar siap-siap. Begitu sampai pool saya bilang sudah nyampai. Saya tunggu di depan saja karena baterai hp saya sudah mau habis, sudah tanggung kalau mau ngecharge harus nunggu di dalam, nanti malah cari-carian. Nunggu lama kok papa ga muncul-muncul. Begitu sudah adzan Maghrib baru muncul si papanya. Ternyata dipikirnya di Suci, haiyah, lupa banget sih. Saya nunggunya di DU, nyarinya di Suci, ada-ada aja.
Tapi seru juga nunggu di situ, kemarin sih lihat ada mahasiswa yang nungguin dosen pembimbing gitu buat tanda tangan ga tahu saya skripsi atau thesis. Saya senyum-senyum saja ke dosennya. Dosennya ibu-ibu gitu dan buru-buru mau berangkat ha³ seru aja ngelihatnya.
*Sekarang badan saya pegal-pegal banget gini, butuh istirahat. Tapi.............
Selasa, 14 September 2010
Agrowisata Sondokoro

Ini lokasinya di Agrowisata Sondokoro, PT Perkebunan Nusantara XI PG Tasikmadu di Karanganyar. Ini si papa yang motret. Awalnya sih saya maunya pas tulisannya itu yang terlihat jelas, tapi pas mau ambil hp dan mencet tombolnya gak tau kenapa kok susah banget, jadinya malah tulisannya kecil gak kelihatan. Ini malah si embak ini yang kelihatan gede, he³. Ini kami lagi naik kereta uap keliling lokasi PTPN ini.
Selasa, 31 Agustus 2010
Panduan Mudik
Panduan Mudik
dakwatuna.com – Islam merupakan agama yang mudah, perintah dan larangannya mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada satu kewajiban atau larangan dalam Islam yang memberatkan manusia. Allah SWT berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185).
Dan dalam kondisi-kondisi tertentu Islam memberikan keringanan dalam pelaksanaan ibadah. Bagi orang yang sakit dan musafir banyak diberikan kemudahan dalam Islam. Orang yang sedang melakukan safar (perjalanan), termasuk mudik pulang kampung halaman saat lebaran adalah orang yang mendapat rukhsoh (keringanan). Di antara kemudahan yang diberikan Islam, yaitu pada saat melaksanakan shalat wajib. Keringanan shalat saat safar di antaranya dengan cara dibolehkan mengqashar (mengurangi rakaat shalat) dan menjama’ (menggabung) shalat dll. Rasulullah SAW bersabda:
إن الله تعالى يحب أن تؤتى رخصه، آما يكره أن تؤتى معصيته
Artinya: “Sesungguhnya Allah suka jika diambil keringanannya sebagaimana benci jika maksiat kepada-Nya” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).
Panduan ibadah bagi musafir (pemudik), terdiri dari:
1. Shalat Jamaah
2. Shalat bagi Musafir
3. Adab Safar
4. Doa Safar
1. Shalat Jamaah
Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat dan fardhu ‘ain (kewajiban yang mengikat setiap individu muslim) dalam setiap kondisi. Baik kondisi aman maupun perang, kondisi sehat maupun sakit, kondisi muqim (menetap) maupun safar (bepergian). Allah SWT berfirman: “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`” (QS Al Baqarah 238)
Rasulullah SAW bersabda:
صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة ( متفق عليه )
“Shalat jamaah lebih utama dari shalat sendiri sebesar dua puluh tujuh derajat” Dari Abu Hurairah RA diceritakan bahwa ada seorang lelaki buta bertanya kepada Rasulullah SAW , “Wahai Rasulullah aku tidak punya penuntun yang menggandengku ke masjid, apakah aku mendapat keringanan untuk shalat di rumah?”. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu mendengar adzan shalat?”, “Ya”, jawab lelaki itu. Rasulullah SAW berkata dengan tegas:”Kalau begitu datangilah masjid untuk shalat berjamaah!”
2. Shalat Bagi Musafir
Arti Safar
Safar secara bahasa berarti: Melakukan perjalanan, lawan dari iqomah. Sedangkan secara istilah, safar adalah: Seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu. Seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: Niat, keluar dari daerahnya dan memenuhi jarak tertentu.
Rukhsoh Shalat Bagi Musafir
Seorang musafir mendapatkan rukhsoh dari Allah SWT dalam pelaksanaan shalat. Rukhsoh tersebut adalah: Mengqashar shalat yang bilangannya empat rakaat menjadi dua, menjama’ shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan ‘Isya, shalat di atas kendaraan, tayammum dengan debu/tanah pengganti wudhu dalam kondisi tidak mendapatkan air dll.
Shalat Qashar
Mengqashar shalat adalah mengurangi shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat, yaitu pada shalat Zhuhur, Ashar dan ‘Isya.
Dalil Shalat Qashar
Allah SWT berfirman:
”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS an-Nisaa’ 101).
Rasulullah SAW bersabda:
.« أَوّلَ مَا فُرِضَتِ الصّلاَةُ رَآْعَتَيْنِ فَأُقِرّتْ صَلاَةُ السّفَرِ وَأُتِمّتْ صَلاَةُ الْحَضَرْ » : عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
Dari ‘Aisyah RA berkata : “Awal diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)” (Muttafaqun ‘alaihi) Jarak Qashar Seorang musafir dapat mengambil rukhsoh shalat dengan mengqashar dan menjama’ jika telah memenuhi jarak tertentu. Rasulullah SAW bersabda:
و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ كِلَاهُمَا عَنْ غُنْدَرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلَاثَةِ فَرَاسِخَ شُعْبَةُ الشَّاكُّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
dari Yahya bin Zaid Al Huna’i, katanya; “Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqashar shalat. Dia menjawab; “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar sejauh tiga mil, atau tiga farsakh -syu’bah ragu- maka beliau melakukan shalat dua rakaat.” (HR. Muslim)
Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda:” Wahai penduduk Mekah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan” (HR at-Tabrani, ad-Daruqutni, hadits mauquf)
ولابن أبي شيبة من وجه آخر صحيح عنه قال ” تقصر الصلاة في مسيرة يوم وليلة “
Dari Ibnu Syaibah dari arah yang lain berkata:” Qashar shalat dalam jarak perjalanan sehari semalam” “Adalah Ibnu Umar RA dan Ibnu Abbas RA mengqashar shalat dan buka puasa pada perjalanan menempuh jarak 4 burd yaitu 16 farsakh”.
Jumhur Ulama berpendapat, sebagaimana hadits Ibnu Abbas bahwa jarak minimal dibolehkannya qashar shalat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 M sehingga 16 Farsakh = 88,656 km.
Syarat Shalat Qashar:
1. Niat Safar
2. Memenuhi jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd (88, 656 km )
3. Keluar dari kota tempat tinggalnya
4. Shafar yang dilakukan bukan safar maksiat
Lama Waktu Qashar
Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal di sana maka dia dapat melakukan qashar dan jama’ shalat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi’i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah melewati 4 hari ia harus melakukan shalat yang sempurna. Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar. Berkata Ibnul Qoyyim:” Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat”. Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari:”
Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna”.
Jama’ Antara Dua Shalat Saat Safar
Jama’ antara dua shalat, pada waktu safar dibolehkan. Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat Zhuhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan ‘Isya. Rasulullah SAW bersabda:
عن مُعَاذِ بنِ جَبَلٍ: “أَنّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم آَانَ في غَزْوَةِ تَبُوكٍ إذا زَاغَتِ الشّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشّمْسُ أَخّرَ الظّهْرَ حتى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ، وَفي المَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، وَإِن يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشّمْسُ أَخّرَ المَغْرِبَ حتى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُم جَمَعَ بَيْنَهُمَا”
Dari Muadz bin Jabal: ”Bahwa Rasulullah SAW pada saat perang Tabuk, jika matahari telah condong dan belum berangkat maka menjama’ shalat antara Zhuhur dan Ashar. Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong, maka mengakhirkan shalat Zhuhur sampai berhenti untuk shalat Ashar. Dan pada waktu shalat Maghrib sama juga, jika matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka menjama’ antara Maghrib dan ‘Isya. Tetapi jika sudah berangkat sebelum matahari tenggelam maka mengakhirkan waktu shalat Maghrib sampai berhenti untuk shalat ‘Isya, kemudian menjama’ keduanya” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Shalat jama’ terdiri dari dua macam, yaitu jama taqdim dan jama’ ta’khir. Jama’ taqdim adalah menggabungkan shalat antara shalat Zhuhur dan Ashar yang dilakukan pada waktu Zhuhur dan shalat Maghrib dan Isya’ yang dilakukan pada waktu Maghrib. Sedangkan jama’ ta’khir adalah menggabungkan shalat antara shalat Zhuhur dan Ashar yang dilakukan pada waktu Ashar dan shalat Maghrib dan Isya’ yang dilakukan pada waktu Isya’.
Seorang musafir yang melakukan qashar dan jama’ shalat, maka shalat jamaah yang dilakukan sbb:
♦ Niat untuk melakukan shalat jama’ dan qashar secara berjamaah.
♦ Disunnahkan membaca iqomah pada setiap shalat (misalnya iqomah untuk shalat Zhuhur dan iqomah untuk shalat Ashar).
♦ Berimam pada orang yang sama-sama melakukan qashar dan jama’.
♦ Shalat jama’ dilakukan secara langsung, tanpa diselingi dengan shalat sunnah atau doa atau lainnya.
Menghadap Kiblat
Menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat, baik dalam keadaan muqim maupun musafir sebagaimana firman Allah: ”Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS Al Baqarah 144).
Maka jika seorang musafir berada dalam kendaraan; baik itu mobil, kereta api, kapal laut atau pesawat udara dan mampu menghadap kiblat, maka ia harus menghadap kiblat. Sedangkan bagi musafir yang naik kendaraan sedang ia tidak tahu arah kiblat atau tidak mampu menghadap kiblat, maka ia harus shalat menghadap arah mana saja yang ia yakini dan shalat sesuai kondisi di kendaraan. Allah SWT berfirman:”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah 115).
Tata Cara Shalat Di Atas Kendaraan
1. Jika dimungkinkan maka shalat seperti biasa, yaitu shalat berjamaah, menghadap kiblat, berdiri, ruku dan sujud seperti biasa.
2. Jika tidak dapat berdiri maka shalat sambil duduk dengan gerakan shalat dalam kondisi duduk. Ruku’ dan sujud dengan membungkukkan punggung, dan saat sujud punggung lebih menurun dari ruku’.
3. Apabila tidak mendapatkan air, maka dapat bertayammum. Cara tayammum yaitu menepuk tanah atau debu pada dinding kendaraan dengan dua telapak tangan, lalu diusapkan ke seluruh wajah. Kemudian tangan yang satu mengusap yang lain sampai pergelangan tangan.
3. Adab Safar
Apabila seorang muslim hendak melakukan safar maka hendaknya memperhatikan adab-adab safar sbb:
1. Jika terdiri dari dua orang atau lebih, maka harus diangkat seorang ketua rombongan.
2. Sebelum berangkat dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rakaat.
3. Berdoa kepada Allah memohon keselamatan dirinya, keluarga yang ditinggal dan kaum muslimin, seperti:
اللَّهُمَّ بِكَ أسْتَعِينُ وَعَلَيْكَ أتَوَآَّلُ؛ اللَّهُمَّ ذَلِّلْ لي صعُوبَةَ أمْرِي، وَسَهِّلْ عَليَّ مَشَقَّةَ سَفَرِي، وَارْزُقْنِي مِنَ الخَيْرِ أآْثَرَ مِمَّا أطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي آُلَّ شَرٍّ. رَبّ اشْرَحْ لي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أمْرِي، اللَّهُمَّ إني أسْتَحْفِظُكَ وأسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَدِينِي وأهْلِي وأقارِبي وآُلَّ ما أنْعَمْتَ عَليَّ وَعَليْهِمْ بِهِ مِنْ آخِرَةٍ وَدُنْيا، فاحْفَظْنَا أجمعَينَ مِنْ آُلّ سُوءٍ يا آَرِيمُ.
“Ya Allah, kepada-Mu aku memohon dan bertawakal, ya Allah mudahkan urusan kami, gampangkan kesusahan safarku, berilah rezki padaku berupa kebaikan yang lebih banyak dari yang aku minta, jauhkan dariku segala keburukan. Ya Rabb lapangkan dadaku, mudahkan urusanku. Ya Allah aku memohon perlindungan-Mu, dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku dan nikmat yang telah engkau berikan padaku dan pada mereka dalam hal akhirat dan dunia, dan jagalah kami semua dari setiap keburukan ya Karim”
4. Memberi wasiat (nasihat) dan meminta wasiat, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dikatakan Ibnu Umar pada Qoz’ah:” Kemarilah saya akan melepasmu sebagaimana Rasulullah SAW melepasku (saat akan bepergian):
“أسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وأمانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ”.
Saya titipkan pada Allah dinmu, amanatmu dan akhir amalmu” (HR Abu Dawud)
Di riwayatkan oleh at-Tirmidzi, datang seseorang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah SAW saya akan bepergian maka bekalilah saya !” Rasulullah SAW bersabda:” Semoga Allah membekali engkau dengan taqwa”. “Tambahlah”. “Semoga Allah mengampuni dosamu”. “Tambahlah”, “semoga Allah memudahkanmu dimana saja engkau berada”.
5. Saat dalam perjalanan harus menggunakan waktunya pada sesuatu yang baik dan bermanfaat, seperti; memperbanyak dzikir dan doa, baca al-Qur’an, membaca buku, tafakkur alam, mendengarkan nasyid (lagu-lagu Islami) dll.
6. Jangan melakukan kemaksiatan, dan mengupayakan agar suasana di kendaraan menjadi Islami.
7. Membawa bekal-bekal dan sarana-sarana untuk mendukung suasana yang Islami tersebut, misalnya: Membawa mushaf Al-Qur’an, buku bacaan yang Islami, kaset nasyid (lagu-lagu Islam) dll.
4. Doa Safar
Doa Keluar Rumah
بِسْمِ الله تَوَآّلْتُ عَلَى الله، لا حَوْلَ وَلا قُوّةَ إِلاّ بالله
” Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”.
Doa Naik Kendaraan dan Safar
“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”“Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam safar ini kebaikan dan ketaqwaan, dan dari amal yang Engkau ridhai. Ya Allah mudahkan pada safar kami, dan pendekkan jauhnya perjalanan. Ya Allah engkau teman dalam safar dan pemimpin keluarga. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari susahnya safar, kesedihan dan buruknya kesudahan pada harta dan keluarga”.
Jika akan pulang maka baca doa serupa dan ditambah:” Kami kembali, bertobat, beribadah dan memuji kepada Allah”
Ketika Kendaraan yang dinaiki adalah kapal laut, maka membaca doa:
( بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ( 41
” Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(hdn)
Sumber: dakwatuna
Selasa, 11 Mei 2010
Lengkap Sudah
Kemarin karena ada yang harus diselesaikan dulu di kantor, jadinya pulangnya agak sore, kira-kira sebelum Maghrib deh. Ternyata gerbang yang di depan kantor itu sudah ditutup, jadinya harus jalan mutar dulu ke gerbang satunya yang di sebelah barat. Mana hujan lagi. Eh, sampai di perempatan Naripan, ternyata angkot yang biasa saya naikin penuh terus. Mau naik bus apalagi, gila penuhnya. Saya pernah berdiri dari Naripan sampai Cijambe.
Tapi akhirnya dapat juga, meskipun nyempil, tempat duduk di angkot.
Di perempatan Jalan Sunda, ganti angkot jurusan Dago-Panghegar, lumayan penuh juga tapi alhamdulillah masih bisa masuk. Nah, dari situ sampai Cikadut, gila macetnya luar biasa. Sampai-sampai kaki saya pegal. Ya, begitulah Bandung kalau hujan atau habis hujan. Macet di mana-mana.
Senin, 25 Januari 2010
Orang Makin Banyak yang Egois?
Dulu kan tiap pagi saya bawa si dedek naik bus. Saya gendong sambil saya bawa tas punggung biar praktis. Pernah juga sih saya gak dapat tempat duduk dan terpaksa berdiri. Waktu itu saya berpikir kok gak ada ya yang mau memberikan tempat duduknya ke saya, tapi ya sudahlah mungkin mereka lebih memerlukan tempat duduk itu dibanding saya. Toh saya juga masih kuat berdiri sambil nggendong dedek. Kali lain saya juga terpaksa berdiri lagi karena saya ngejar absen, sudah agak siang dan ternyata dapat bus yang sudah penuh. Tapi alhamdulillah ada ibu-ibu yang mau memberikan tempat duduknya ke saya. Makasih banyak ya bu, semoga Allah SWT membalasnya. Pernah juga laki-laki seumuran adik saya ngasih tempat duduknya ke saya.
Saya jadi ingat dulu waktu masih hamil si dedek dan saya juga naik bus. Karena perut saya kecil, gak kelihatan kali ya kalau lagi hamil, kalau terpaksa berdiri gak ada yang ngasih tempat duduknya ke saya. Jadi we terpaksa berdiri sambil kadang meringis juga menahan rasa mual dan pingin pingsan. Tapi alhamdulillah gak pernah sih sampai pingsan. Ya, semoga semakin banyak orang peduli sama orang lain.
Selasa, 22 Desember 2009
Konsultasi Psikologi
Tadi akhirnya izin dari kantor dan berangkat pukul 08.30. Jalan sebentar ke perempatan Jalan Naripan buat nunggu bus. Tadi sih alhamdulillah kurang dari 5 menit sudah dapat bus dan dapatnya yang langsung jurusan Cibiru jadi gak usah oper-oper lagi. Turun di Pasirimpun terus naik ojek. Alhamdulillah tadi bilang ke tukang ojeknya ke "Tunas Unggul, Mang" langsung diantarnya ke kantor yang di pinggir jalan itu karena biasanya diantarnya ke sekolahnya yang masuk ke dalam itu. Awalnya malah saya yang bingung karena saya belum pernah ke sana. Saya tadi pede saja masuk ke sana karena saya lihat banyak hasil karya anak-anak yang dipajang di ruang depannya. Saya nanya ke resepsionis "kantornya bu Yena apa benar di sini," "benar" katanya dan langsung ditanya "mama Naura ya?" "oh bukan, saya mama Nashwa" jawab saya dan langsung diberitahu untuk menunggu dulu sebentar. Setelah menunggu kurang lebih 5 menit, akhirnya saya dipersilakan masuk menemui psikolognya. Ternyata hasil tes psikologinya tidak bisa di-print out karena printer dan motherboard atau apa ya tadi saya lupa. Jadinya saya ditanyain bawa flashdisk ga. Ya saya jawab ga karena saya gak diberitahu untuk untuk bawa flashdisk. Jadi tadi saya ditanyain saja Nashwa kalau di rumah itu bagaimana, kemajuannya apa saja, sudah pernah terapai apa, di mana, terus apa kekurangan Nashwa menurut saya, apa yang diharapkan dari Nashwa, apa yang bisa disampaikan untuk dilakukan oleh guru-guru Nashwa di sekolah untuk Nashwa. Ya saya terangkan saja semuanya. Kalau bagi kami, kakak Nashwa itu hanya butuh lingkungan yang nyaman dan penghargaan atas kemampuannya serta stimulasi atau dorongan agar dia lebih percaya diri dan mampu tampil ke muka. Semoga. Amin.
Senin, 30 November 2009
Orang Tua (Harus) Ikut Belajar
Saya langsung mikir, si anak itu tadi kira-kira kelas berapa ya, mungkin kelas 2 atau tiga gitu deh. Nanti kalau si kakak sudah SD, kami sebagai orang tua harus ikut belajar juga, karena saya lihat juga di kantor teman-teman yang anaknya sudah duduk di bangku SD, mereka ikut sibuk, ikut belajar, untuk bahan-bahan pelajaran anaknya, apalagi kalau anaknya mau ujian. Atau kalau gak ada PR (pekerjaan rumah) yang mengharuskan mencari bahan-bahannya di internet, waduh orang tuanya ikut sibuk browsing. Semoga nanti kami bisa ikut mendampingi belajar si kakak (dan sekalian dedek juga ikutan belajar). Kalau sekarang ngajarin si kakak, si dedek juga sambil belajar juga. Ya, semoga sekali menyelam minum air, he....he....he........si dedek juga sambil belajar biar pintar. Amin.
Jumat, 13 November 2009
Jalan-jalan Pagi (Lagi)
Tadi berangkatnya sudah agak siangan, jadi di sana sudah tidak begitu ramai. Tadi nanya ke si bapak yang jual buku dan majalah ternyata mereka bukanya dari pukul 4 sampai 8 pagi, jadi disarankan kalau ke sana agak pagian biar enak milih-milih buku atau majalahnya soalnya kalau sudah mau pukul 8 biasanya mereka sudah siap-siap membereskan dagangan mereka. Tadi sih saya dapat buku cerita buat anak-anak (bisa sekalian buat kakak dan dedek), buku resep Variasi Camilan Crispy sama buku tentang yoga yang ada bonus DVD-nya (semua cuma habis Rp.27.000,-). Murah meriah - hemat.com, he....he....he....
Nanti kapan-kapan ke sana lagi ah, tadi sih ngincar buku tentang Aisyah isteri Rasulullah Muhammad SAW (tadi sih nanya harganya cuma Rp.25.000,-) sama paling beli buku-buku buat anak-anak (mewarnai, cerita). Ga papa deh bukunya murah meriah yang penting kan isinya. Malah kapan itu saya dapat buku ensiklopedia gitu murah banget di situ cuma lupa berapa ya udah lama banget, ada kali ya setahun lebih.
Kamis, 12 November 2009
Jalan-jalan Pagi
Tadi pagi sih berangkat pukul 7 lebih, menyusuri Jalan Asia Afrika, mampir dulu ke Cikapundung buat beli buku-buku (kalau pagi di sana suka banyak pedagang buku, majalah, koran, dan lain-lain dengan harga miring). Tadi sih beli buku buat dedek Azzah. Ya, beli buku cerita gitu buat dibacain ke dedek. Di sana juga banyak buku mewarnai. Kapan itu saya beli buat kakak. Kakak kan senang sekali mewarnai.
Habis dari Cikapundung, kami nyeberang melalui jalan kecil gitu, gak tahu jalan apa, tembus ke Jalan Banceuy (kalau gak salah), foto-foto sebentar di Pabrik Kopi "Aroma" terus belok ke arah Pasar Baru. Di Pasar Baru kami foto-foto lagi (masih pada banci fb, he3x, narsis habis). Dari situ kami menyusuri Jalan Otista sampai perempatan Jalan Asia Afrika-Sudirman, belok kiri buat kembali ke kantor melalui Jalan Asia Afrika (dan teteup foto-foto lagi, ha3x). Di depan Pasar Kota Kembang (sekarang lagi ditutup gara-gara razia CD, VCD, DVD bajakan) ada bangunan gak tahu apa itu ada semacam lorong gitu, foto-foto lagi.
Habis itu ya sudah pada langsung pulang ke kantor. Saya mampir sebentar ke ATM CIMB Niaga buat bayar tagihan kartu kredit (jatuh temponya hari ini ternyata). Mampir ke ATMandiri ternyata lagi Out of Service ya sudah nanti saja deh ke ATM yang lain.
Lumayan jalan paginya, kepanasan, berkeringat, Insya Allah sehat, Amin. Semoga bisa ikut lagi jalan-jalan pagi.
Selasa, 06 Oktober 2009
Hujan
Begitu masuk ke jalan Suci, ohlala ternyata macetnya panjang banget. Padahal biasanya jam segitu tuh udah gak terlalu macet. Sampai ke Cicaheum masih macet saja. Setelah Cicaheum, benar-benar padat merayap. Akhirnya kami bisa terbebas dari macet karena tiba-tiba turun hujan deras, soalnya yang pada pakai motor pada berteduh hingga yang jalan cuma mobil-mobil saja. Alhamdulillah. Untung papa bawa mobil, jadi gak kehujanan. Semoga nanti sore gak hujan deh, biar gak macet lagi. Amin.
Senin, 05 Oktober 2009
Membawa ASI Perah (ASIP) dalam Pesawat Terbang
Membawa ASI Perah Dalam Pesawat Terbang
Aturan di pesawat
- Ibu yang terbang dengan atau tanpa anak dibolehkan membawa ASI/susu formula/jus dalam jumlah lebih dari 90 mililiter, asal dilaporkan dulu (declared) di pabean.
- ASI maupun susu formula boleh dibawa di tas jinjing atau tas lainnya. Prosedur pemeriksaannya sama dengan barang-barang lain, yaitu melalui pemeriksaan sinar X, pabean dan boleh dibawa ke kabin. Anda dan anak tidak akan diminta untuk mengetes ASI atau susu formula.
- Pisahkan ASI atau susu formula tersebut dari cairan lain (gel, aerosol, cairan). Simpan di dalam tas berukuran 1 liter yang memiliki ritsleting di bagian atas.
3. Laporkan juga ice pack di dalam cooler box ke petugas pabean saat check-in. Bila ice-pack tidak boleh dibawa, karena kemungkinan akan mencair setelah lewat batas waktu, sampaikan ke petugas pabean atau kru pesawat Anda akan menitipkan ASI perah di lemari pendingin pesawat.
Teknik memerah dan membawa ASI perah di dalam pesawat. Selain aturan-aturan membawa ASI dalam pesawat terbang, Anda perlu perhatikan juga teknik memerah ASI di dalam pesawat atau menyimpan ASI perah dalam kabin.
- Simpan ASI perah di cooler box dengan beberapa ice pack untuk menjaga ketahanan ASI selama kurang lebih 6-7 jam atau tergantung lama perjalanan.
- Bila tidak membawa ice pack, titipkan ASI perah di lemari pendingin di kabin.
- Jika harus memerah ASI di pesawat, sampaikan ke awak kabin, mungkin mereka bisa membantu Anda dengan memberi deretan kursi yang kosong. Gunakan apron menyusui, permisi kepada penumpang di sebelah dan lakukan prosedur memerah ASI seperti biasa (cuci tangan, dan lain-lain).
Nah, sudah siap terbang Bunda?
Nyaris Terlambat
Gak tahu kenapa tadi pagi macetnya minta ampun. Mungkin karena anak-anak sekolah sudah mulai masuk semua, kalau minggu kemarin kan masih ada yang libur. Tapi ini macetnya benar-benar macet, gak seperti kemarin-kemarin sebelum lebaran. Apakah penduduk Bandung sudah bertambah lagi ya?
Tadi pagi jadinya di jalan deg-degan aja bawaannya. Mana nunggu busnya lama banget gak datang-datang. Gak tahu kenapa, padahal biasanya busnya banyak, ya paling gak gak terlalu lama nunggunya. Tadi begitu masuk ke Jalan Jakarta lihat di arloji salah satu penumpang sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB makin deg-degan aja, tapi sambil pasrah juga karena bus jalannya begitu pelan karena jalanan begitu macet (sambil berharap semoga arloji tersebut dicepetin jamnya he...he....he.....). Tapi syukur alhamdulillah nyampai juga di kantor dan masih bisa absen. Terima kasih ya Allah.........
Kamis, 01 Oktober 2009
Udah bulan Oktober lagi
Kami nyampai di Tegal sekitar pukul 4 pagi, mampir di SPBU Kramat (SPBU yang masuk Rekor MURI karena banyaknya toilet bersihnya itu) buat sahur, istirahat, sholat Subuh. Tapi berhubung di situ ramai banget jadinya gak bisa istirahat, mau sholat aja antrinya. Akhirnya kami istirahat lagi sebentar di pinggir jalan, lumayan buat si papa istirahat.
Capek juga, ya namanya juga mudik, apalagi ditambah macet yang begitu panjang, jadinya perjalanan yang biasanya sekitar 12 jam, jadi sekitar 24 jam nyampai di rumah Boyolali. Tapi alhamdulillah anak-anak gak rewel. Paling agak rewel aja karena panas dan gatal-gatal (biang keringat, kena serangga, gigitan nyamuk).
Kami balik lagi ke Bandung hari Sabtu tanggal 26 September 2009 sekitar pukul 08.30 WIB dan nyampai di Bandung sekitar pukul 22.00 WIB. Alhamdulillah lancar, gak macet.
Saya dan papanya anak-anak masuk kerja lagi hari Selasa kemarin. Si kakak masuk sekolah juga hari Selasa kemarin. Si dedek juga masuk ke TPA lagi hari Selasa kemarin. Kalau si kakak dibawain oleh-oleh buat dikasih ke bu gurunya gak mau ngasihin ke bu gurunya. Waktu ditanya kenapa gak dikasih, wong teman-teman yang lain gak ada yang ngasih ke bu guru kok. Weleh-weleh ya gak pa pa atuh kak, kasih aja ke bu guru. Besoknya disuruh bawa lagi gak mau, kan kakak udah bilang gak mau, jangan disuruh bawa lagi dong, gitu katanya. Ya sudah deh, maaf ya bu guru.
Kalau si dedek lain lagi, ternyata mbak-mbak pengasuh yang biasa megang si dedek gak balik lagi dari kampung. Waduh, pagi-pagi sudah terjadi kehebohan di TPA. Sementara sama eyang yang di TPA dengan saudara dan ponakannya. Saya mandiin dulu si dedek sambil nunggu yang bantuin eyang datang. Si dedek nangis pas waktu ditinggal aja, habis itu ya main sama teman-temannya.
Kalau kemarin lebih heboh lagi. Ternyata saudaranya eyang meninggal dunia, jadinya eyang gak bisa datang (termasuk juga yang bantuin eyang). Mana si dedek belum mandi lagi, jadinya kayak numpang mandi aja di TPA. Habis mandiin saya bawa lagi ke kantor. Kalau yang lain karena kebetulan orang tuanya di situ, jadinya pada dibawa ke ruangan sama orang tuanya. He...he...he....kalau dipikir-pikir lucu juga ya, ya kembali kita ke fitrah kita, momong anak-anak kita, gitu kata salah satu ibu.
Alhamdulillah kemarin dedek seharian ikut mamanya ngantor gak rewel. Makan 3 kali, ngemilnya gak terhitung, he...he...he....kebetulan masih banyak oleh-oleh di ruangan jadinya dedek bisa ngemil. Tapi jadinya mamanya penuh perutnya karena kadang dedek kalau ngemil gitu suka ngambil aja ntar gak dihabisin, lalu dikasihin ke mamanya, jadinya mamanya yang benar-benar kenyang.
Kalau hari ini sih alhamdulillah udah ada pengasuhnya. Tadi jadinya ngasih tahu ini barang-barangnya dedek Azzah, ini lokernya, ini makanannya, ini botol susunya, ini susunya, dan lain-lain. Semoga dedek cepat dapat beradaptasi. Amin.
Kamis, 17 September 2009
Siap-siap Mudik
Kalau tahun kemarin, waktu di Cirebon, berhubung gak merhatiin tanda belok ke Tol Kanci, jadinya malah jalan lurus aja. Tapi ada hikmahnya juga, malah gak macet. Soalnya begitu di depan pintu tol, ternyata terjadi kemacetan di jalan tolnya, panjaaaaaang banget. He...he....he....akhirnya kami bisa tersenyum lega. Alhamdulillah, gak terjebak macet.
Karena si papa nyetir sendirian, seringnya kami berhenti buat istirahat. Ya lebih baik begitu daripada dipaksakan, ntar malah terjadi apa-apa. Dari rumah saya juga sudah berpesan ke si papa, pokoknya kalau capek, ngantuk, mendingan berhenti, istirahat dulu aja, jangan dipaksa. Gak papa nyantai aja, gak usah ngebut.
Ya, semoga mudik besok kami diberi kelancaran, keselamatan, tak kurang suatu apa pun, nyampai di kampung halaman. Amin.
Selasa, 15 September 2009
Pasar Tumpah
Tapi begitu nyampai di depan Pasar Kosambi, waduh, busnya gak bisa bergerak karena banyak pedagang yang menggelar dagangannya meluber sampai ke jalan, ditambah banyaknya kendaraan yang diparkir di jalan yang menutupi jalan. Tapi alhamdulillah tadi gak terlalu lama macetnya karena sama tukang parkirnya motor-motor dipinggirin, meski gak terlalu jauh gesernya tapi lumayan bisa dilewati sama dua bus yang berpapasan.
Alhamdulillah habis itu gak ketemu macet lagi, dan bisa nyampai kantor pukul 7 kurang tadi (lupa persisnya jam berapa).
Jumat, 28 Agustus 2009
Uang Pecahan Rp.2.000,00
Saya akhirnya cuma tersenyum aja. Ya, mungkin sopir angkot tersebut belum ngelihat uang pecahan Rp.2.000,00 yang baru.
Kamis, 20 Agustus 2009
Berangkat Bareng
Di dekat TPA kan suka ada tukang sayur langganan yang jualan di pinggir jalan. Bilang ke si papa, mama mau beli sayur dulu di situ, eh malah langsung ditinggal di situ, gak diantar sampai ke TPA. Untung sudah dekat, gimana kalau jauh, mana bawa tas besar gitu. Tapi ya gak pa pa deh, lumayan jadi bisa agak lama tadi main sama dedek di TPA.
Rabu, 19 Agustus 2009
Pulang kemarin sore
Sampai di TPA ternyata masih pukul 17.33 WIB. Eh giliran saya njemputnya awal kok ya si dedek Azzah lagi bobok. Ya udah ditungguin dulu sampai bangun, kasihan kalau dibangunin. Nyenyak banget kelihatannya. Si papa nelpon udah di depan. Saya bilang aja kalau dedek Azzah masih bobok, ya udah ditungguin aja sampai dedek bangun. Setelah habis Maghrib baru deh si dedek bangun. Langsung saja saya pakaiin jilbab, jaket sama celanan panjangnya. Dedek yang biasanya ogah-ogahan kalau dipakaiin itu kemarin enjoy aja, mungkin masih belum sadar benar ya, he....he....he.... Ya udah pamitan sama dedek Qila dan mamanya yang masih ada di TPA, kami duluan ya, dadah........
Gak Telat Lagi
Akhirnya ada bus yang lewat. Kali ini bus jurusan Cibiru-Leuwipanjang. Kalau yang bus dari Cibiru ini memang pasti penuh dan pasti berdiri. Tapi gak pa pa deh daripada telat. Eh ternyata busnya gak mau berhenti. Aduh, saya semakin gelisah saja. Tapi alhamdulillah, ternyata di belakangnya ada bus jurusan Cicaheum-Cibeureum. Yes, thanks God. Akhirnya saya naik bus itu. Busnya udah agak penuh, tapi masih dapat tempat duduk. Lihat ke jam di depan, ternyata udah pukul 06.46 WIB. Insya Allah masih bisa ngejar absen. Sempat agak macet di depan Pasar Cicadas - dan saya berdoa semoga tidak telat- tapi akhirnya bisa lolos. Sampai di Kiaracondong dan Jalan Jakarta banyak penumpang yang naik, akhirnya busnya jadi penuh.
Gak tahu kenapa tadi tuh kena lampu merah terus, jadinya saya deg-degan nyampai apa nggak ya ke kantor. Tapi alhamdulillah tadi nyampai di kantor dan absen di mesin fingerprint pukul 07.17 WIB. Asyik gak telat........
Selasa, 18 Agustus 2009
Gak Telat
Tapi setelah bus berjalan lagi, semakin banyak penumpang yang naik, penumpang yang lain tetap saja pada cuek. Bahkan ketika ada ibu-ibu tua yang mau berangkat ke pengajian (setahu saya kalau pakai baju putih-putih berkerudung pada hari Selasa biasanya pengajian di Masjid Raya Bandung) gak ada yang ngasih tempat duduknya ke ibu itu. Bahkan -maaf saya jadi suudzon- laki-laki yang di depan saya pura-pura gak ngelihat/tidur. Setelah ibu tua itu beringsut ke depan, alhamdulillah ada bapak-bapak yang ngasih tempat duduknya.
Saya cuma bisa berharap, semoga semakin banyak bus kota yang nyaman di Bandung, sehingga gak terlalu lama nunggu udah ada bus kota dan bisa dapat tempat duduk.
